Pengalaman Bayi Tabung di Indonesia dan Malaysia
Sebenernya dah banyak yah tulisan orang tentang pengalaman bayi tabung mereka, baik yang berhasil maupun yang gagal, tapi aku kepengen banget nulisin pengalaman bayi tabung aku, selain menuangkan perasaan aku, yang seneng banget kalo aku tuangkan lewat tulisan daripada ngobrolin sama orang, juga buat nyalurin hobby aku yang terpendam....:)), dan walaupun pengalaman BT aku gagal, mudah2an dapat dijadikan pelajaran untuk orang yang akan menjalani program bayi tabung.
Aku cerita sebelum aku memutuskan untuk bayi tabung, nggak sedikit orang yang menceritakan ke aku tentang kegagalan bayi tabung mereka. Jujur hal tersebut agak mempengaruhi juga terhadap psikologis aku, namun aku banyak baca tentang cerita2 orang yang berhasil bayi tabung dan aku obrolin dengan suami dan akhirnya kami mantap untuk bayi tabung. Selain memantapkan diri secara psikologis, kami juga mantapkan diri secara agama, finansial, waktu, serta dukungan keluarga. Secara agama, kami banyak membaca & bertanya tentang hukum BT menurut Islam, ngurus cuti biar lancar, minta doa sama orang tua & keluarga. Pokoknya kayaknya mantap abis dah....:).
BT aku yang pertama kami putuskan di Indonesia, dan dilakukan stimulus ovumnya di Bogor, dekat tempat tinggal aku, namun OPU & ETnya dilakukan di Jakarta, karena aku dan suami berpikir saat itu, jika dilakukan diluar kota, seperti di Surabaya, apalagi diluar negeri, hal tersebut akan membutuhkan waktu, tenaga & finansial yang extra. Padahal saat itu aku dapat cuti besar, namun kami tetap memutuskan untuk tetap BT di Indonesia, karena walaupun aku cuti, tapi suami tetep harus kerja seperti biasa.
Ternyata kelemahan apabila kita melakukan BT dekat rumah, kita tidak dapat istirahat atau refreshing untuk membuat kita rileks, karena ritmenya sama seperti biasa dikala kita tidak cuti, dan dilalahnya tempat kerja aku dekat dengan dokter periksa, jadi tetep mampir ke tempat kerja walaupun lagi cuti....:), karena walaupun tidak ada yang mewajibkan aku kerja, pekerjaan aku tetap ada & akupun di rumah nggak bisa tenang kalo masih ada perkerjaan yang belum terselesaikan. Dan walaupun setiap week end kita mencoba untuk refreshing dengan pergi keluar kota, hal tersebut malah menambah stress dan pengeluaran finansial meningkat, karena keluar kota paling bisanya 2-3 hran, karena suami harus kerja lagi dan itu bikin cape di jln, walaupun pake pesawat atau kereta api, tetep ke Jakartanya macet. Dan budget keluar kota itu menambah finansial kita....:)
Kelemahan lainnya BT di Indonesia, pemeriksaan laboratorium di Indonesia, selain hasilnya lama, karena walaupun laboratorium ternama di Bogor, tetep diperiksakannya di jakarta dan harganyapun lumayan ngabisin kantong kita, selain laboratorium, obat stimulus ovum juga ngabisin kantong kita banget, busyet dah super duper mahal banget harganya, waktu itu saya hanya dapat menopore, harga menopore yang 75 unit hampir 500 rban, sehari disuntik 300 unit, bisa dibayangkan jika diinjeksi selama 13 hari.....:)
Trus kelemahan di Indonesia, dokter & RS tidak punya patokan harga yang bisa dihabiskan oleh kita selama program BT. Jujur waktu itu kenapa kita mantap melakukan BT di Indonesia, karena sewaktu kita tanya ke dokternya biaya yang bisa dihabiskan selama BT, dokternya bilang sekitar 40 jtan. Dan kami waktu itu sedia dana 50 jt, jadi cukup dong.....:). Dan ternyata walaupun di tempel di brosur-brosur harga yang dihabiskan untuk OPU & ET hanya 26 jtan dan saat kami tanya ada tidaknya biaya diluar itu & pihak RS menjelaskan biaya obat saja, paling habis 1 jtan, lega dong rasanya....:).
Ternyata kenyataannya untuk laboratorium saja kami menghabiskan biaya hampir 10 jtan, dan laboratorium yang diperiksa amat sangat komplit, sampai2 hepatitis dari A sampai C wajib diperiksa. Untuk stimulus ovum yang dibilang awal hanya habis sekitar 12 jtan oleh drnya, ternyata mencapai lbh dr 30 jtan. Dan prosedur OPU & ET yang dibilang pihak RS hanya habis 26 sampai 27 jtan, ternyata mencapai lebih dari 30 jtan termasuk ovadril, obat2an post OPU & ET serta periksa dokter & USG, jadi semuanya habis hampir 80 jtan.....:). Oh yaa itu belum termasuk freeze jika kita punya sisa embrio.
Trus kelemahan lain lagi, Jakartanya super duper macet, jadi saat mau kontrol Ovum, OPU & ET serta periksa beta HCG kita mesti spare waktu kalo dari rumah aku yang kampung lebih dari 4 jam, bisa dibayangkan gimana rasanya abis OPU & ET yang masih sakit dan mules harus menempuh perjalanan selama itu....:)
Nggak adil yaa kalo hanya kelemahannya aja yang dikupas....:), di Indonesiapun banyak kelebihannya sehingga menjadi alasan kami memilih di Indonesia & di stimulus di Bogor, pertama karena dokternya dekat rumah, sudah S.KFER & peralatan USG nyapun sudah memenuhi standar, dg kata lain canggih. Dan yang paling aku & suami suka, dokternya benar2 menghargai kita sebagai klien, wanita & umat muslim, jadi menjaga banget kemaluan kita, maaf saya pernah merasakan dokter di jakarta yang kurang menghargai, pokoknya membuat kita malu, yang pasti saya pribadi kapok berobat lagi di dokter tersebut. Trus aku juga bisa nyuntik di rumah dengan tenang, karena obatnya kan harus dalam kondisi di lemari es.
Kedua dokternya kooperatif dan empati terhadap kita, dan telah kerjasama dengan baik dengan RS yang akan melakukan OPU & ET kita.
Peralatan dan tempat di RS saat OPU & ETpun sangat nyaman & canggih, karena aku tidak merasakan sakit yang berlebihan waktu dilakukan tindakan. Hanya saja monitor yang diperlihatkan pada aku & suami saat OPU & ET bukan monitor yang berasal dari rahim aku, sehingga aku sendiri tidak dapat melihat kondisi rahim aku setelah ET, jadi yang diperlihatkan monitor ke suami, saat OPU hanya, ovum yang di dapat dan saat ET embrio yang di ambil dicawan dan saat selang yang memasukkan embrio dicuci. Jadi itu termasuk kelemahan juga yaa dikit....:) Dan seperti tadi dibilang di atas, hasil Lab di Indonesia lama sekali, even aku periksa di RS jakarta, hasilnya bisa sehari.....geleng2 kepala dech....:)
Trus selama kita program BT banyak orang bilang harus makan yang bergizi, sayuran, ikan, telur, buah2an, pokoknya tinggi protein, dikarenakan rumah aku di kampung, aku agak kesulitan sekali ngedapati bahan makanan seperti itu, jadi aku harus nyari di swalayan besarlah, dan itu butuh tenaga & budget lebih, he he kasian yaa punya rumah di kampung....:).
Pengalaman BT aku di Malay, jadi sewaktu BT pertama aku mengalami gugur embrio, aku kan masih dalam kondisi cuti, jadi sisa cuti tersebut selain aku pakai untuk memulihkan kondisi fisik & mental aku, juga kami pakai konsultasi ke malay untuk rencana BT selanjutnya.
Sebelum berangkat Malay, aku konsultasi dulu dengan teman yang pernah kesana & searching para blogger, untuk mendapatkan perjalanan yang murah & mengasyikkan, karena kami harapkan perjalanannya juga bisa sebagai penawar hati kami yang sedang galau.....:).
Akhirnya kami dapat itinerary yang murah & tujuan kamipun bisa tercapai, karena kami berobat di Penang, & pesawat langsung Penang dari Jakarta, selain tiketnya mahal, rata2 800 rb dan 1,2 jt malah sempat 2 jt, juga transit dulu di Kuala Lumpur atau Singapore atau Kuala Namu.
Jadi setiap mau konsul ke Penang, Itinerary kami ke Kuala Lumpur dulu, Penang, balik lagi Kuala Lumpur, karena tiket jakarta-kuala lumpur hanya 400 rban malah sempat dapat 250 rban.
Alhasil konsul kami pertama pun kami habiskan ampir 1 minggu di Malay & Thai....:)
Bukan bermaksud menjelekkan negara sendiri atau memuji2 negara orang lain, ini hanya pengalaman yang aku rasakan aja, dan kalau menurut aku ada hal baik di negara orang bukan berarti kita menjelekkan negara sendiri, itu sebagai cermin untuk kita lebih baik lagi.
Jadi waktu konsul pertama kali, di Malay itu tidak mengharuskan kami untuk mengulang pemeriksaan laboratorium, jadi hasil laboratorium di Indonesia bisa dipakai disana. Yang dilakukan pemeriksaan ulang disana hanya SA & pap smear, & harga pemeriksaan disana sangat murah, untuk pap smear, RM 10 = 36 rban, SA, RM 80 = 300 rban dengan hasil pada hari itu keluar, jadi kami konsul hanya membutuhkan 1 hari.
Dan disana juga kami dijelaskan waktu kapan lagi kami harus kontrol & biaya yang dibutuhkan setiap kami kontrol, & mereka menyampaikan biayanya maksimal, bukan yang minimal dibutuhkan, yang akhirnya meledak biayanya.....:)
Jadi mereka jelaskan biaya keseluruhan rata2 habis antara RM 10.000 sampai RM 12.000, pemeriksaan pertama menghabiskan biaya RM 754, pemeriksaan kedua RM 3000, pemeriksaan ketiga RM 3000, pemeriksaan keempat RM 5100, pemeriksaan kelima RM 1000, Freeze RM 1000 untuk 2 th. biaya tersebut sudah termasuk priksa dokter, USG, Lab & obat, begitu yang mereka jelaskan saat itu. Dan mereka juga membuka jalur komunikasi yang langsung ke ruangan yang dokternya standby di jam kerja serta melalui email. Jadi jam kerja disana, hari senin sampai jumat, untuk tindakan mulai jam 8, dan untuk di klinik mulai jam 10 sampai selesai, hari sabtu & minggu untuk klien yang sudah janji.
Karena aku baru program BT, jd dokternya nganjurin aku istirahat dulu selama 2 siklus menstruasi, biar hormonnya normal lagi, dan aku dianjurkan untuk nelpon pada hari pertama menstruasi. Pada hari pertama menstruasi aku telpon, namun aku dianjurkan untuk ambil siklus berikutnya, karena doktenya cuti imlek.
Akhirnya pada siklus berikutnya aku disuruh datang pada hari ke-20 menstruasi, beruntung kenanya dihari senin, jadi aku hanya ijin 3 hari.
Oh yaa BT kedua ini cutinya dah habis jd ijin deh, ijin 3 hr kami gunakan, supaya refreshing bisa, berobat jg bisa, kami berangkat ke kuala lumpur hari sabtu, naik pesawat terakhir, biar hari sabtu itu kami bisa kerja dulu & yang pasti kami nyampe KLIAnya malam jadi nggak usah sewa kamar hotel, cukup tidur di bandara, biar ngirit tp bisa jln2....:)). Jadi minggu pagi abis tidur di bandara, mandi, shalat & sarapan, btw kami liat yg tidur di bandara ternyata banyak juga, bkn hanya kami, bule pun banyak, malah org mah sekeluarga, bawa anak segala....:) kami langsung ke puduraya, beli tiket nanti malam untuk ke penang & titip barang kami di puduraya. Dari KLIA ke Puduraya, pake bus sampai KL center, dari KL center ke puduraya naik van, onkosnya RM 10, jadi pagi2 dah di Puduraya, kenyang deh kita jln2 di Kuala Lumpur ampe jam 11 malem. Karena jam 12 malem kita jalan ke Penang, tiket KL-Penang, waktu konsul pertama kena RM 33, pas datang yg kedua pas minyak di malay naik jd kena RM 38, taktik ini diajarin temen & para backpaker, kalo jalan lebih baik malam, biar nggak usah sewa hotel, jadi itulah yang kami lakukan....:). Nyampe Sungai Nibong jam 4an naik taksi ke apartement, konsul pertama RM 20 ongkos taksinya, yang kedua dah naik jadi RM 25. Nyampe apartement, saya langsung ambil nomor antrian, oh yaa berobat di LWEH, penuh banget, kalo kita nggak antri dari sebelum subuh, takutnya nggak kebagian nomor pada hari itu, rugi deh, plgnya jd molor. Abis daftar, biasanya kita tidur di apartement & balik lagi sesuai nomor, kita pastikan via telp jam brp kebagian nomor kita. Oh yaa, letak apartement & RS sangat dekat (seberangnya), dengan jalan kaki saja sudah sampai, jadi tdk bikin stress di jln.....:), Namun tetep walaupun kebagian nomor kecil, kita biasanya selesai sampai jam 3an, karena selesai di USG, kita harus antri ambil obat & harus antri untuk dijelaskan cara menyuntik obat tersebut. Dan seperti yang saya bilang, pasien disana banyak untuk yang program BT, sehari bisa sampai 60, rata2 40, jadi gitu deh harus antri, pokonya seharian td untuk berobat. Besoknya pulang ke KL, tp kalo plg ke KL pagi, takutnya nggak keburu naik pesawat, kecuali kalau malam baru keburu, naik pesawat malam, di Indonesia sangsi deh Damrinya ada, atau bandaranya bisa untuk kita nginap.....:). Jadi biasanya pakai perjalanan malam lagi kami ke KL, jadi selasa pagi, abis cek out dari apartement kami beli tiket untuk malam & titip barang di Komtar, tiket dari Penang ke KL lbh murah RM 35, dan sambil menunggu malam, barulah kami habiskan waktu buat jalan2 di Penang. Rabu Pagi nyampe Puduraya, langsung mandi, shalat subuh, langsung menuju KLIA, jadi mending nunggu di KLIA drpd ketelatan, toch bandaranya nyaman abis. Alhasil nyampe rumah, tetep malem jam 10an, karena nungguin damrinya yang lama & jalanan Jakartanya super duper macet.....:)
Konsul kedua ini setelah di USG, langsung diberikan resep untuk ambil suprefact, setelah itu sambil ngajarin nyuntik, susternya kasih suntikan pertama untuk saya. Oh yaa, di LWEH, tim IVFnya itu tdk berubah2, dari mulai dokter, perawat, embriolog, itu2 aja, jd kami sudah merasa kenal & dekat dengan mereka. Suprefact ini diberikan untuk 2 minggu dengan dosis 40 unit, dan konsul kedua ini saya habis RM 548 yang mreka anggarkan tdnya akan habis RM 754. Dan saya dianjurkan untuk memberi kabar bila datang menstruasi, walaupun obat belum habis.
Sama seperti di Indonesia, obat harus dalam kondisi di lemari es, jadi kemana2 kita bawa cool box, berabe yaa, blom pengecekan di bandaranya.....:). Karena waktu nyuntik saya malam, jadi selama diperjalanan, saya nyuntiknya di Musyola kalau nggak di Toilet, disitu berabenya brobat diluar negeri & bolak balik ke Indonesia.....:).
Seminggu pemberian suprefact, aku menstruasi kembali, lalu memberikan kabar ke LWEH. Oh yaa saat disuntik suprefact, aku mengalami gatal di tenggorokan, jadi suaranya abis, aku baca seeh salah satu efeknya emang seperti itu. Hari ke 7 menstruasi, kami dianjurkan untuk kembali konsul, seperti biasa, aku ijin 3 hari, dengan pola perjalanan sama dengan konsul kedua, di konsul ketiga sudah diberikan Gonal F & menopore, jd dapet 3 suntikan, suprefactnya diteruskan dengan dosis turun 15 unit, sebelumnya single 2 hr suprefact 15 unit. Di konsul ketiga kami diharuskan kembali seminggu lagi dan tidak diperbolehkan untuk kembali ke Indonesia, karena akan di cek setiap 3 hr sekali. Oh yaa konsul ketiga habis biaya RM 1587 yang mereka bilang akan habis RM 3000.
Konsul keempat, saat di USG walaupun ovum sy sdh distimulus dengan 3 suntikan selama 6 hr, tidak membesar & tdk dapat banyak, hadeuh disitu saya lemes bgt, jadi saya diharuskan nambah suntikan, jd total saya dapat suntikan Gonal F selama 13 hr dengan dosis yang meningkat pula, dari 225 unit menjadi 300 unit. Alhasil bila digabungkan selama seminggu untuk konsul yg keempat & kelima habis RM 3100 dengan periksa darah, dan sdh termasuk ovadril, yang mereka perkirakan RM 3000. Untuk OPU mereka perkirakan 5100, saya habis 5048, jd deposit saya ada sisa....:), untuk ET dan obat saya habis RM 987, yang mereka perkirakan habis RM 1000, intinya disini untuk masalah harga, perkiraan mereka itu yang diberitahukan ke kita sebagai klien tidak melenceng jauh, sehingga tidak menambah terlalu stress klien masalah finansial
Kelebihan lagi saat ET di LWEH, saya dapat melihat melalui monitor kondisi embrio saya yang sudah ada di rahim saya, jadi kameranya yang di shoot dalam rahim, bukan yang di cawan, saat pengambilan & pencucian slang post masukin embrio, seperti di Jakarta. Namun kelemahan yang saya rasakan, di LWEH suami tidak dapat melihat ovum yang didapat saat OPU, kalo di jakarta suami bisa melihat, sehingga kita sangat cemas dengan hasil ovum yang didapat, & pemberitahuannyapun sangat lama, karena pasien disuruh istirahat dulu, padahal jdnya boro2 istirahat, yang ada tegang mikirin hasil OPU....:). Kelemahan lain lagi, saat mau ET, dikarenakan embriologisnya antri pasien, mereka menjelaskan ke suami jumlah embrio yang masuk itu pada saat tindakan, jadi si isteri tidak dikabarin terlebih dahulu, ini yang membuat aku makin cemas. Di Jakarta, kami sebelum ET dijelaskan kondisi embrionya & kami diberikan fotonya.
Oh yaa aku ingin sampaikan juga, apartementnya selain dekat dengan RS, juga dekat dengan pasar, ada pasar pagi juga pasar petang, dan di pasarnya dijual sayuran, buah & ikan yang bagus2, pokoknya kalo di Indo kelasnya swalayan deh tp harga pasar tradisional....:), Jadi kalo di Indo aku males masak, disana seneng banget masak, bawah merah aja segede2 gaban....:), ditambah lagi disana suasananya tenang, nggak macet, kalo mau ke pantai atau ke gunung deket, tinggal naik bus, tarif bus terdekat RM 1,40 dan terjauh RM 2. Tarif apartement semalam, yang ada kamar mandi di dalam RM 50, yang kamar mandi rame2 RM 40 & biasanya kalo kita nginap lama itu dapat discount, karena yang punya apartement orang Indonesia juga. Fasilitas apartement, AC, kipas angin, shower & pemanasnya, lemari es, dapur & peralatannya, mesin cuci, TV, juicer, serta yang membereskan apartement jg ada, jadi kita tinggal masak saja.
Tapi karena 1 unit apartement itu ada 3 kamar, jadi yang tinggal disanapun menjadi 3 keluarga & itu berganti2, jadi tidak enaknya kita harus menyesuaikan terus dengan sesama penghuni unit apartement dan acara TV di Malaysia chanelnya dikit, jadi kurang variatif untuk hiburan & malah banyak menayangkan sinetron2 Indonesia yang sudah lama.....:) Yang paling nggak enaknya lagi, harga pulsa selulernya mahal banget bow, isi RM 10 kalo dipake nelp sama internet paling cuman bertahan 2 hari. Selain itu Penang juga dekat dengan Thailand, jd bisa jalan2 kesana dengan pulang balik.
Jadi itulah perbedaan pengalaman selama BT di Indonesia & Malaysia, dan setiap tempat ada kelebihan & kekurangannya, yang pasti yang saya ingin sampaikan, jika ada yang ingin BT, persiapan & strateginya itu harus benar2 kita siapkan. Persiapan yang matang juga bukan berarti meningkatkan keberhasilan, keberhasilan 100 % milik Allah SWT dimanapun & dg dokter siapapun atau dengan cara short atau long protocol sekalipun, hanya saja BT itu selain memerlukan finansial yang tidak sedikit, tapi kesiapan fisik dan mental harus benar2 disiapkan. Saya seeh berangan2, jika bisa dibalik waktu yang kemarin, saya BT akan memilih di Penang, dengan strategi & alasan sbb :
1, Siapkan uang yang lebih selain untuk berobat, transport suami & saudara yang bulak balik ke Penang, biaya hidup disana selama 4 blnan, dan biaya refreshing.
2. Tarifnya jelas, jadi pengeluaran finansial bisa diperkirakan, oh yaa untuk keamanan kita juga bisa simpan uang di bank yang ada di Malay & Indo jg, sprt Niaga atau Maybank.
3. Ambil cuti minimal 6 blnlah, jadi mulai stay di Penang semenjak diberikan suntikan Gonal F sampai dengan kondisi janin kita aman (usia kehamilan 4 blnan), jadi nggak usah bawa cool box kemana2. Yang saya rasakan, dengan tidak cuti, bolak balik seperti kemarin, selain cape, pikiran kita bercabang, berobat & kerja.
Stand by disana juga menguntungkan karena letak apartement dekat dengan RS, sehingga jika terjadi apa2 kita bisa langsung ke RS & dr beserta perawatpun stand by disana, even hr libur mereka mudah dihubungi & jalanannya tdk macet, jadi cepat datang ke lokasi, kecuali kalo sedang cuti, tidak dapat diganggu gugat, mknnya cari wkt dengan dokternya yg dokter tdk cuti.
4. Kalo ada teman yang ingin BT, kalo bisa bareng dengan kita BT nya, jadi tinggal di apartementnya satu unit, sehingga mengurangi kita untuk beradaptasi dengan orang lain.
5. Tinggal disana jangan dengan suami menemani kita, karena suami pikirannya akan ke pekerjaan, itu mempengaruhi juga buat kita, suami datang kesana saat spermanya dibutuhkan atau sekali2 menengok kita.
6. Tinggal disana dengan saudara atau teman sesama wanita, ataupun gantian ada yang menengok kita kesana, agar tidak bosan & kita juga bisa sebagai guide untuk mereka, atau jika yang menemani teman wanita atau saudara wanita, dapat melakukan ladies time.....:).
7. Bawa player dengan VCDnya untuk killing time.
8. Bikin target hattam Al-Quran.
9. Ambil paket pulsa untuk internet blnan, biar lbh murah, berhubungan dengan yang lain via online.
10. Belanja & masak sendiri selama disana, slain gizinya dpt dikontrol, lbh murah dibanding beli, hanya untuk soya lebih enak jika beli yang sudah jadi, soya cair pake gula merah harga 1 bungkus, 3 gelas belimbing = RM 1,40
11. Gunakan waktu untuk travelling ke negara2 lain yang dekat, selama belum ET, slain untuk refreshing, juga biar nggak jenuh & mumpung disana lebih deket dibanding dari Indonesia....:)
12. Saat OPU & ET pastikan kita bertanya dengan jelas tentang embrio kita, karena di Malay, masih memperbolehkan ovum & sperma ambil dari bank dan donor.
Itu saja mungkin yang bisa saya bagikan, jika ada kata2 yang tidak berkenan, saya mohon maaf, sekali lagi tidak bermaksud untuk menjelekkan atau membandingkan, hanya keinginan memperbaiki diri & strategi saya saja jika Allah berkendak & mencoba membagikannya kepada orang lain.